Terduduk aku di atas sebuah kayu berkaki empat, di depan ruang kelasku, X-7. Ku lepas pandang ke seluruh penjuru lapangan. Tugas dari guru menuntutku mulai menggerakkan benda bertinta hitam ini. Semilir angin siang itu kian syahdu menghantarkanku pada sebuah memori. Bayang semu lapangan SMA N 1 Salatiga beberapa bulan lalu melintas tak pasti. Konstruksi tak karuan dan tekstur bak gurun pasir yang hanya terdapat lapisan pedosfer tanpa rumput. Ketika air tumpah dari langit, lapisan pedosfer kering menjelma menjadi lumpur becek, habitat bagi bebek. Spot-spot coklat berpola sepatu terbentuk di lantai-lantai koridor. Mengharuskan para cleaning service mengepel secara kontinu. Lalu, tiba-tiba pikiranku "ngadat". Otakku tak mampu mengingat keadaan lapangan yang dulu kembali. Sepertinya RAM di otakku sudah mendelete beberapa file mengenai hal itu dan menggantinya dengan ratusan bahkan ribuan hafalan dan rumus-rumus yang berjejalan.
Kembali ku layangkan pandangan ke tengah lapangan. Retina mata beriris hitam ini menangkap 2 pria paruh baya sedang berjongkok. Rasa penasaran mempertahankan saraf mata ini stagnan memandang. Rumput liar nan nakal yang beraktivitas di lapangan menambah satu pekerjaan baru bagi 2 pria itu. Menyiangi. Rumput-rumput liar seakan iri, ingin serta merta mendapat nutrisi H2O dari sang empunya. Seorang pria lain terlihat menarik-narik selang biru panjang di sudut barat daya lapangan. Pria telaten, yang kini hasil pekerjaannya sudah dapat dinikmati sebagian -pekerjaan belum selesai 100%. Rumput hijau pun berpesta. Mereka bersukacita. Menampakkan rasa bahagianya dengan memamerkan pigmen hijau segarnya. Sangat segar di kornea mata.
Lapangan gundul telah berselimut hijau, meski selimut itu sobek pada beberapa bagian. Berkapsid jogging track merah bata yang memang dibuat dari padatan bata, dan area untuk pedestrian yang kini sering menjadi jalur favorit meskipun harus menambah jarak yang ditempuh, padahal perpindahannya cukup kecil. Beraksesori pepohonan hijau yang rindang penyuplai oksigen, taman bunga sebagai penyumbang unsur estetis terbesar di mana binatang-binatang kecil kerap menjadikannya tempat bermain, pun pohon-pohon penghasil buah yang saat ini sedang bereproduksi. Daunnya kerap kering, berwarna kuning kecoklatan. Dan ketika ditiup angin, melayang, kemudian terjatuh, merapuh. Seperti sebuah dinamika. Lapangan nampak bagai kue, bertoppingkan makhluk hidup berkingdom plantae. Jambu-jambu air yang terpisah dari pohonnya tergeletak begitu saja. Angin berlalu-lalang membiarkannya busuk. Hanya berhembus tak tentu arah membawa debu sesukanya. Sedang bakteri yang baik hati tak tega melihat jambu-jambu membusuk dengan proses terlalu lama. Bakteri mempercepat pembusukannya, hingga hanya ulat kecil menjijikkanlah yang bersedia menjadi penghuninya.
Sejurus kemudian, kedua pupil mataku terfokus pada satu titik. Titik paling utama. Ya, posisi tiang bendera digeser 90°. Kini diserupakan dengan kiblat, arah salat bagi umat Islam, di Indonesia tentunya. Tiang bendera benar-benar menjadi titik paling utama. Tiang tempat Sang Saka Merah Putih dikibarkan menjadi tumpuan ketika para pembawa asa menanti sang pemimpin memberi komando "Hormaaat grak!"