Kedudukan Indonesia sebagai negara terkorup se-Asia Pasifik memperlihatkan
betapa buruk dan kacaunya sistem pemerintahan negeri ini. Generasi muda yang
diharapkan berkarakter lebih, justru malah melestarikan “budaya” nenek moyangnya
terdahulu. Akibatnya, menuju abad 21 tak terhitung berapa banyaknya pejabat
keluar masuk jeruji besi. Nampaknya, pelajaran moral dari guru semasa kecil
telah mereka indahkan. Satu bab penting berkenaan dengan akhlak mahmudah. Kejujuran.
Akhir-akhir ini penurunan moral bangsa semakin menjadi-jadi. Masalah korupsi seolah
menjadi bahan pembicaraan umum di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, para pemerhati
bangsa baiknya cepat bergerak. Hal itu, tentu saja demi membaiknya moral
generasi muda.
Sejalan dengan terkuaknya sederetan kasus-kasus korupsi yang santer
diberitakan, Indonesia gencar melaksanakan sistem pendidikan karakter di
sekolah-sekolah. Sistem pendidikan baru tersebut, tak lain bertujuan untuk
membentuk karakter generasi muda sejak dini atau dengan kata lain memperbaiki
demoralisasi yang terjadi di Indonesia. Pendidikan karakter merupakan salah
satu tindakan preventif sekaligus represif agar tikus-tikus berdasi yang senang
bermain lumpur tak lagi melancarkan aksinya.
Salah satu program berlandaskan pendidikan karakter adalah melalui
kantin kejujuran. Seperti SMA Negeri 1 Salatiga contohnya yang baru-baru ini
melaksanakannya. Kantin kejujuran tersebut baru saja dibuka pada awal semester
genap ini. Walaupun demikian, pada pembukaan perdana, kantin kejujuran mendapat
respon cukup besar dari siswa. Entah itu siswa yang tidak sengaja lewat, kemudian
merasa tertarik dengan keberadaan kantin tersebut atau memang sudah tahu
keberadaan kantin kejujuran tetapi hanya ingin melihat kelengkapan
barang-barang yang dijual.
Kantin kejujuran menyediakan berbagai makanan dan minuman hingga alat-alat
tulis yang memang sangat dibutuhkan siswa. Karena letaknya dekat dengan ruang
kelas, hal itu sangat menguntungkan bagi siswa. Mengapa? Sebab para siswa tidak
perlu berjalan jauh ke toko alat tulis serta menahan lapar dan dahaga
berlama-lama. Makanan yang dijual pun terjamin kebersihannya. Selain itu, harga
yang dipatok kantin kejujuran juga sudah sesuai standar pada umumnya. Bahkan,
ada beberapa barang yang harganya lebih murah, sehingga kantin pun tidak pernah
sepi.
Sebenarnya kantin kejujuran hampir sama dengan kantin-kantin
lainnya. Hanya saja, kantin ini, tidak menyediakan teller. Jadi, siswa membayar
dan mengambil kembaliannya sendiri di dalam sebuah mangkuk. Pihak sekolah hanya
menyediakan uang receh dan seribuan di dalam mangkuk tersebut guna
mengantasipasi siswa yang membutuhkan kembalian. Kantin ini sangat efektif untuk
mengetes kejujuran siswa. Namun demikian, agaknya para guru kurang percaya pada
kejujuran siswa-siswinya. Hal itu terlihat dari kantin yang masih saja dijaga
oleh satu dua orang guru piket. Keberadaan guru tentu saja dapat meminimalkan
siswa yang ingin berbuat curang. Namun, dilain pihak, mereka yang benar-benar
ingin berbuat jujur justru agak terganggu dengan keberadaan guru piket. Mereka
merasa diawasi saat melakukan transaksi. Lain halnya apabila kantin tidak ada
penjaganya. Tanggung jawab para siswa akan diuji, sehingga mereka dapat belajar
bagaimana menjadi siswa yang amanah. Maka dari itu, ada baiknya jika kantin
kejujuran dibiarkan tanpa ada penjaga atau bisa juga dengan memasang kamera
CCTV.
Apa pun yang diprogramkan manusia, baik itu dari Pemerintah Republik
Indonesia hingga RT pasti ada kelebihan
dan kekurangannya. Begitu juga dengan kantin kejujuran yang jelas-jelas sedang beradaptasi
dengan siswa-siswinya. Walaupun demikian, keberadaan kantin kejujuran di SMA
Negeri 1 Salatiga sudah cukup berhasil menanamkan nilai-nilai kejujuran pada siswa-siswinya.
So, program ini sedang berjalan sukses! Mereka –para siswa- berani
jujur, membayar dengan harga sesuai. Bibit moral sudah berhasil ditanam. Penanaman
yang disertai dengan pemupukan secara optimal nantinya akan membuahkan hasil
yang maksimal pula. Di kemudian hari, moral-moral terdidik dan terpelajar akan
dipanen ketika para generasi muda sudah mengambil alih tugas pemerintahan. Pemanenan
yang berhasil, semoga.




