Hari Berikutnya

.........................................................................................................................
Esoknya, aku membawa karton-karton itu ke sekolah. Lima belas lembar,  sesuai kesepakatan dengan teman sekelas. Walaupun perjanjiannnya berangkat pukul 10, karena TERLALU rajinnya aku berangkat dari rumah sekitar pukul sembilan kurang dikiiit. Adapun kurang lebihnya saya mohon maaf, karena jam di dunia ini beda-beda –alibi-. ciyeeeee rajin banget gue. Kwokwokwo. Sebenernya sih bukan itu alasannya –tutupan panci dulu ah- aku berangkat jam segitu biar bisa nebeng Bapak yang mau berangkat kuliah di STAIN. Canggih banget ide guehhh ya (menghemat pengeluaran).

Yah, dengan posisi rumahku yang bisa dibilang jauh dari sekolah, mau berangkat jam segitu pun, sampe sekolah tetep aja setengah 10. Cuma setengah jam dari rumah sampe sekolah , wew. Maklum aje Babe kalo make sepeda motor kenceng banget. Kemudian dengan menjinjing sebuah kardus aku berjalan dari pertigaan menuju gerbang sekolah. Lagi-lagi SENDIRI.

Terlihatlah di depan kelas baruku, 2 insan manusia bernama Shonia dan Ratri sedang duduk di depan ruangan. Aku pun menyapa mereka. Hanya menyapa dan berbincang sedikit, itu pun menyangkut masalah atribut. Di sela perbincangan itulah baru kutahu bahwa Ratri Hayuningmas Hapsari adalah umat Kristiani. Maaf, ya Ratri awalnya aku kira kamu muslim XD

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Hloh kok? Hmm lupakan. Teman-teman akhirnya berdatangan dan kami mulai membuat atribut. Tinggal Lena dan Tesa saja yang belum datang. Mereka mengajar di sekolah Minggu (acara gereja gitu deh). Disitulah, keakakraban agak timbul. Percakapan mulai terarah dan temanya jelas.

Saat waktu salat Zuhur tiba, aku dan Eva salat di masjid SMANSSA. cieeee salat perdana nih yeee.


Yang namanya manusia, pasti lapar juga. Perut pun mulai berorkestra. Aku, Eva, Bella, Made, dan Mela memutuskan mencari makan –saat yang ditunggu-tunggu setelah berkutat dengan atribut-atribut- Kami berjalan menyusuri Kemiri tanpa tujuan. Si Bella usul nih, beli borju. Kita kira deket. Eee, ternyata jauh tak terkira. Dan sekembalinya  ke sekolah, teman-teman udah pulang #Parah banget
Tas kami ditaruh di depan kelas gitu aja. tas yang malaaang.

Oya, sekedar info (jiaaah) kelas kami masih bertahan dengan nama ”SETU SORE” loh (sampe bingung awalnya mau bikin logo kayak gimana. Sempet terpikir juga logonya gambar dua anak lagi pacaran trus ada matahari mau terbenam di atasnya –ide konyol-)

Ngga begitu spesial hari itu. Hanya saja terasa sekali kami bertambah akrab. Jajan bareng walau pun belum saling kenal, ketawa bareng, rebutan gunting, ngukur bareng, serta bareng-bareng yang lainnya. Dan tahukah Anda? Saat itu Bella dan Mela namanya siapa pun saya tidak tahu!!

0 komentar:



Posting Komentar