Alunan Sebuah Lagu ♫ ♫ ♫

Lagu, alunannya membuat damai. Iramanya, liriknya, mencerminkan isi hati yang menyenandungkannya -tapi sekarang fungsi lagu yang sesungguhnya sudah geser #eh-  Musik adalah jiwa saya. TITIKKK! Sudah tertanam sejak dulu kala dan saya memang sudah ditakdirkan menyukai musik. Istilahnya sudah mendarah daging. WEW
Kecintaan saya akan musik semakin menjadi-jadi tatkala seorang gadis dari keluarga Gutawa berkicau (bukan arti sesungguhnya). Jiwa musik saya terpanggil, jiaaaah. Saya seperti terhipnotis oleh gadis itu. Dan dengan bangganya saya menyatakan dan menetapkan Aluna Sagita Gutawa sebagai idola saya setelah Rasulullah SAW.  

Lagu! lagu yang dibawakannya. Tak tahu saya kenapa suka dengan aliran pop-seriosa. Itu aliran saya hlo #ngga tanya! Dulu vokal saya belum matang menyanyikan lagu dengan nada-nada tinggi seperti itu. Karena kebiasaan, nada-nada itu pun dapat saya jangkau. Kemudian, muncullah seorang putri remaja bernama Putri Ayu dengan aliran seriosanya. Karena dari sononya saya suka lagu begetooan ya udah deh saya ngikutin perkembangan Putri di IMB. Lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya saya download, lalu saya nyanyikan sendiri. Dan, jangkauan nada saya bertambah! Vokal saya semakin matang (PD banget,wkwk).  Dan kini saya kembali tersadar abis pingsan Aluna Sagita Gutawa dan lagunya akan tetap dan selalu hits di hati saya. wedewwww..... Lagu-lagu dari album pertama mulai saya nyanyikan kembali. Tau ngga, itu karena liriknya nyrempet gue bangett It's wow!  (apalagi nyanyinya pas ujan deres gitu, ngadep ke luar, dan mulai bersenandung :3) Memang tak dapat dinyana lagu-lagu Kak Gita mencerminkan saya saat ini.  Walaupun saya ngga pernah pacaran bodo amat ah :p #lho ra nyambung blas
Hakikat lagu bagi saya ada di lagu ini nih:

Saat dunia tanpa nada, senyumku enggan hadir
Ku mencari 
di manakah
tempat curahkan isi hati?

Ku mainkan sebuah lagu
Ku tulis perasaanku
Ku nyanyikan semua, dengan sepenuh hati
Keajaiban sebuah lagu
Telah merubah hatiku
Membuatku
kini dapat tersenyum
kembali

Alunan sebuah lagu
Nada indahmu memberi
sayap
tuk terbang jauuuuuhh
tinggal tangis sedihku

Alunan sebuah lagu
Terima kasih untukmu
Telah ada
dan menjaga hatiku
selamanya

 ♫ ♫ ♫

Hari Berikutnya

.........................................................................................................................
Esoknya, aku membawa karton-karton itu ke sekolah. Lima belas lembar,  sesuai kesepakatan dengan teman sekelas. Walaupun perjanjiannnya berangkat pukul 10, karena TERLALU rajinnya aku berangkat dari rumah sekitar pukul sembilan kurang dikiiit. Adapun kurang lebihnya saya mohon maaf, karena jam di dunia ini beda-beda –alibi-. ciyeeeee rajin banget gue. Kwokwokwo. Sebenernya sih bukan itu alasannya –tutupan panci dulu ah- aku berangkat jam segitu biar bisa nebeng Bapak yang mau berangkat kuliah di STAIN. Canggih banget ide guehhh ya (menghemat pengeluaran).

Yah, dengan posisi rumahku yang bisa dibilang jauh dari sekolah, mau berangkat jam segitu pun, sampe sekolah tetep aja setengah 10. Cuma setengah jam dari rumah sampe sekolah , wew. Maklum aje Babe kalo make sepeda motor kenceng banget. Kemudian dengan menjinjing sebuah kardus aku berjalan dari pertigaan menuju gerbang sekolah. Lagi-lagi SENDIRI.

Terlihatlah di depan kelas baruku, 2 insan manusia bernama Shonia dan Ratri sedang duduk di depan ruangan. Aku pun menyapa mereka. Hanya menyapa dan berbincang sedikit, itu pun menyangkut masalah atribut. Di sela perbincangan itulah baru kutahu bahwa Ratri Hayuningmas Hapsari adalah umat Kristiani. Maaf, ya Ratri awalnya aku kira kamu muslim XD

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Hloh kok? Hmm lupakan. Teman-teman akhirnya berdatangan dan kami mulai membuat atribut. Tinggal Lena dan Tesa saja yang belum datang. Mereka mengajar di sekolah Minggu (acara gereja gitu deh). Disitulah, keakakraban agak timbul. Percakapan mulai terarah dan temanya jelas.

Saat waktu salat Zuhur tiba, aku dan Eva salat di masjid SMANSSA. cieeee salat perdana nih yeee.


Yang namanya manusia, pasti lapar juga. Perut pun mulai berorkestra. Aku, Eva, Bella, Made, dan Mela memutuskan mencari makan –saat yang ditunggu-tunggu setelah berkutat dengan atribut-atribut- Kami berjalan menyusuri Kemiri tanpa tujuan. Si Bella usul nih, beli borju. Kita kira deket. Eee, ternyata jauh tak terkira. Dan sekembalinya  ke sekolah, teman-teman udah pulang #Parah banget
Tas kami ditaruh di depan kelas gitu aja. tas yang malaaang.

Oya, sekedar info (jiaaah) kelas kami masih bertahan dengan nama ”SETU SORE” loh (sampe bingung awalnya mau bikin logo kayak gimana. Sempet terpikir juga logonya gambar dua anak lagi pacaran trus ada matahari mau terbenam di atasnya –ide konyol-)

Ngga begitu spesial hari itu. Hanya saja terasa sekali kami bertambah akrab. Jajan bareng walau pun belum saling kenal, ketawa bareng, rebutan gunting, ngukur bareng, serta bareng-bareng yang lainnya. Dan tahukah Anda? Saat itu Bella dan Mela namanya siapa pun saya tidak tahu!!

BERTEMU MEREKA

Pengumuman penerimaan siswa baru SMA N 1 Salatiga udah selesai. Hmmm walaupun nungguinnya sampe ”ngoyot” plus kerjaannya browsing web smanssaaaaa mulu. Sempat ngebuatku down banget melihat peringkat yang merosot jauuuuh ditambah banget saat seleksi tahap 1. Tentu saja nasihat-nasihat dari orang-orang terdekat membuatku kembali bersemangat. Dan, akhirnyaaa tinggal nunggu pembagian kelas deh.

Malam itu (sebelum paginya bertemu calon teman-teman sekelasku) aku buka FesBuk. Kubaca notif satu-persatu. Taradhinta Suryandari. Yah, langsung saja aku membukanya. Ternyata dia mengirim sesuatu ke dindingku.
” Nama lengkapmu Naili Mawadda ya? Kamu X7, sekelas mbek aku” (bahasamu to dhint XD). Wew, batinku saat itu. Aku bakal sekelas sama rival lombaku pas SD dulu. Hanya seorang saja calon temen sekelas yang baru kukenal #tragis memang

Paginya…
Deredengggg
Hari pertama dimana aku bakal ketemu sama calon temen yang nantinya (bahasa tidak efektif, zzzz ) setahun ke depan sekelas denganku. Oh my Allah... semoga mereka baik. Aku pun segera bersiap mengenakan seragam SMP eh, MTs. lengkap dengan jilbab paris melilit di kepalaku. Karena udah gede (padahal masih 15 tahun, huwaaaa) aku cuma diantar sampe pertigaan Karangjati, dilanjut nunggu angkotan datang dan menaikinya SENDIRIAN #tragis2

Karena masih sangat awam Salatiga, pas hampir sampe sekolah (menurutku dulu, itu udah deket sekolah, padahal masih jauh hloh XD), aku mau berdiri, ngga jadi, berdiri, ngga jadi, sampe ada seorang siswi dari lain sekolah memperhatikanku dengan tatapan aneh (aneh dari Hongkong?????). Akhirnya nyampe juga deh di Salatiga State Senior High School 1 :D

Sampai di gerbang,
Shhhhh Vega mana ya? (pas awal masuk cuma Vega yang aku kenal selain Gigih-dia temen SDku-, soalnya kita sama-sama ga punya temen) wkwkwk #tragis3
Aku coba sms dia berkali-kali, tapi dianya ngga nyampe-nyampe di sekolah. Ya, jadilah seorang Naili Mawadda yang ngga kenal siapa-siapa di tempat yang sangat asing baginya, plonga-plongo ngga jelas. Paling cuma ngobrol sama temen satu ruangan tes, dengan pertanyaan bertipe sama, ”Kelas X berapa?” bzzzzz Vega lama deh.

Aku pun memutuskan untuk berdiri di depan papan pengumuman, sendiri (lagi). Tiba-tiba aja ada seorang anak ngajak kenalan. Namanya Ratih (dan akhirnya kuketahui juga kalo namanya yang bener Ratri) #apadeh --’
Ngga cuma dia, ada juga beberapa anak lain –cewe- yang ngajak kenalan. Ada juga yang namanya Rossy (tapi belakangan aku manggilnya Lena)- Magdalena Rossy Resita-. Dan untungnya ternyata mereka bakal satu kelas sama aku, 
#yeeeyy XD
Lalu kami –calon siswa-siswi SMANSSA- pun dibariskan di lapangan rumput (RSBI  tapi lapangannya masih tanah, rumput keluar dikit-dikit #alamakkeceplosan). Disana kami dibariskan menurut kelas masing-masing. Ya Allah, ngga ada yang aku kenal. Masya Allah banget yah. #tragis4. Disitu Pak ehmm.. pak siapa gitu, lupa. wkwk -tapi inget wajahnya kok- pidato gitu deh, pake English. Huwouwouwo
Pas ditengah-tengah pidato, eh si Vega baru nongol (tiwas ngoyot sing ngenteni).

Setelah itu kami pun memasuki ruang kelas baru. Yay (dalam keadaan masih belum kenal). Sungguh malang nasibku, aku duduk sendirian dibangku nomor dua dari depan. #tragis5 Ya memang sih jumlah siswi di kelasku ganjil. Aku lihat sekeliling. (ekspresi –agak- kaget) Eh, ada dia! Dia kan yang pas pendaftaran sama tes duduk di depanku. Ah, masa bodo :p

Tentu saja kami semua belum kenal satu sama lain. Lalu, datanglah Mbak Meutia dan Mas Magma, pendamping MOS & MPO kami nanti :D Tak hanya mereka, ada juga Mas Yogi & Mbak Azzahra dari kelas XI (tapi pas hari pertama itu Mbak Azza ngga ada). Mas Magma menyuruh kami maju satu-satu memperkenalkan diri. Yang maju pertama namanya Aji Masa’id –aku langsung hafal karena namanya sama kayak alm. artis wkwk-. Terus dilanjut sampe absen terakhir. Organisasi kelas langsung dibentuk saat itu juga dan akulah yang bertugas memilih calon ketua kelas bersama Dhinta, Tesa, dan Lena (kan ngga kenalll). Dan karena ketidakkenalanku pada mereka itu aku asal pilih aja deh (aku milih seseorang yang akhirnya benar-benar menjadi ketua di kelasku, Ristian Dika). Kemudian terpilih Safira Jannah Azzarina & Candra Melania sebagai sekretaris (dipilih berdasarkan hasil tulisan di whiteboard), lalu Bella Pertiwi Putri & Ni Made Wili Septiarini sebagai bendahara kelas.  Si Mas Yogi kemudian nanya ke kita, apa nama kelas X7 pas MOS & MPO nanti. Kami pun mulai berdiskusi. Dari situlah awalnya kami berbincang satu sama lain. Ada yang usul namanya SEJUTA, tapi agak aneh. Gugur deh nama itu. Trus ehm apalagi ya? Wkwk lupa ane. O iya nama itu diusulkan oleh Axel Priya Mahardika. Lanjut ke materi tentang MOS & MPO, mas & mbak pendamping menjelaskan tentang apa saja yang harus dipersiapkan. Untungnya sistem di SMANSSA adalah... satu kelas bikinnya bareng-bareng, pake duit bareng-bareng. Yuhuuuu... kan ngga rempong bo :D Aku cuma kebagian bawa karton 15 lembar. Enteng banget kan? Hahahahaha. Barang-barang itu harus dibawa besok Minggu paginya untuk menyicil pembuatan atribut MPO. Karena banyak teman yang pergi ke gereja dulu, kami sepakat acara (jiah) dimulai pukul 10. Ternyata kelas kami mendapat bagian warna PINK loh untuk semua atribut. aaaa tidak.

Batinku di akhir pertemuan pertama, ”Ni kelas orangnya aneh-aneh deh, namanya juga ANEH! Agama beda-beda ngga masalah bagiku, kan malah seru. Yang penting semoga mereka bisa bersosialisasi dengan baik.” Ya, begitulah kelasku. Ada yang Islam, Kristen, Katholik sampe Hindu. Ada yang asalnya dari Ungaran, Sragen, Jogja, Lombok, Lumajang, etc. Multikultural banget ga sih tuuu??? Hohoho. Sebelum pulang kami saling tukar nomor HP dan sempat smsan. Pulangnya aku bareng teman baruku, Ratri, walau cuma sampe pertigaan --‘
Dannnnnn,  nama sementara kelas baru kami adalah... SETU SORE #tepuk tangan riuhhhh (aneh banget yg kasih nama).


Walikota, Terimalah Surat Kecilku


Hari itu, tanggal 1 Oktober secara tiba-tiba Bu Uswa (Guru Bahasa Indonesia) mengumumkan di kelasku, X7, bahwa ada lomba menulis surat untuk Walikota  Salatiga.  Dan sialnya, kelasku adalah kelas terakhir yang diberi tahu pengumuman itu. Padahal pengiriman paling lambat tanggal 15. Sebenernya sih kami sudah tahu tentang berita -disuruhnya seluruh anak SMANSSA mengirim surat untuk walikota- tapi kami merasa tenang-tenang saja karena guru pengampu belum menyuruh membuat. Tapi TERNYATA "Barangsiapa yang mengirim surat untuk walikota dan menyerahkan bukti pengiriman dari kantor pos akan diberi nilai tambahan". Dan.... kemudian,
kami pun segera ngebut merancang isi surat yang akan dikirim. Sedangkan aku pribadi, rela nglembur sampe jam 3 pagi!! Hasilnya kayak gini deh: 
 

Salatiga, 1 Oktober 2011

Yth. Walikota Salatiga
di Salatiga

Assalamu’alaikum w. w.,

Apa kabarnya Bapak? Semoga Bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Sebelumnya perkenankanlah saya memperkenalkan diri, Pak. Nama saya Naili Mawadda. Oleh teman-teman saya biasa dipanggil Naili. Saya putri Kabupaten Semarang asli kelahiran 20 April 15 tahun yg lalu. Pak, tahukah Bapak, sejak lahir saya berdomisili secara tetap di Kabupaten Semarang dan sungguh, saya jarang sekali pergi ke Salatiga. Saya tinggal di Jalan Sudirman 21, Sendang Polang, Pringapus, Kab. Semarang. Mungkin Bapak baru tahu nama daerah dengan nama ”Pringapus”. Saat ini saya berstatus sebagai pelajar tetap di kelas X-7 SMA N 1 Salatiga.  Pendidikan di RA, SD, dan MTs, saya mengenyamnya di Kabupaten Semarang juga.. Namun, 3 bulan yang lalu, semenjak saya bersekolah di SMA N 1 Salatiga, saya mulai mengenali Salatiga, kota yang terdiri dari berbagai macam etnis. Bagaimana cara naik angkutannya, letak dan nama-nama daerahnya, bangunannya, dan tentu saja masyarakatnya. Saya sedang bersosialisi dengan mereka. Ya, Pak. Baru 3 bulan saja. Jadi, tidak aneh kan, Pak kalau saya mengatakan saya orang awam dan asing akan Salatiga?

Bapak Yulianto yang terhormat,
Tak berlebihan bila saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Walikota Salatiga periode 2011-2016. Sebagai pemimpin bagi suatu daerah, tugas dan pekerjaan wali kota memang bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawab yang cukup besar pun harus ditanggung wali kota guna memajukan dan menyejahterakan daerah maupun masyarakatnya. Warga Salatiga memilih Bapak pasti sudah pikir-pikir dulu, dan saya yakin pilihan mereka tidak salah. Bapak pasti sangat berpengalaman dan sudah mumpuni. Selain bersyukur telah dipilih menjadi walikota, saya yakin pasti Bapak khawatir dan deg-degan. Tentu sangat sulit menjadi seorang walikota. Akan ada banyak cemoohan dibalik pujian-pujian yang terucap dari masyarakat. Masalah-masalah pasti juga akan timbul seiring berjalannya masa kepemimpinan bapak. Saya yakin juga, pasti bapak orangnya amanah, bertanggung jawab, berjiwa sosial tinggi, dan yang jelas anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bukan begitu, Bapak? Semoga demikian.

Bapak yang budiman,
Ada pepatah mengatakan ”Tak kenal maka tak sayang”. Mungkin saya memang baru 3 bulan mengenal Salatiga. Tapi jangan salah, Pak. Saya sayang Salatiga. Saya peduli Salatiga, karena saya cinta Salatiga. Pasti bapak mempunyai PR yang banyak. Bahkan melebihi PR murid-murid sekolah yang ada di Kota Salatiga. Seberapa sulitnya PR-PR itu saya harap bapak melakukannya dengan ikhlas dan amanah.

Bapak yang terpercaya,
Selama 3 bulan terakhir ini setiap hari saya bolak-balik Pringapus-Salatiga. Sejak awal memang saya sudah memutuskan untuk tidak kos. Sebagian besar waktu dalam sehari, saya habiskan di sekolah sebab banyak kegiatan yang diadakan di SMA N 1 Salatiga. Aktifitas yang didominasi di sekolah cukup membuat saya tahu covernya Salatiga. Sehari-hari saya berangkat naik Bus jurusan Semarang-Salatiga, tetapi saat ”mepet” saya terpaksa naik Isuzu. Pernahkah bapak naik angkutan umum? Mungkin belum ya, Pak? Angkutan-angkutan umum itu sungguh tak tahu aturan.  Saya tahu mereka ngebut karena mengantar anak sekolahan yang takut telat, dan jalan raya di Salatiga memang cukup sempit menurut kacamata saya. Tapi alangkah baiknya jika mereka menaati aturan lalu lintas. Seharusnya mereka berada di lajur kiri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun berdasarkan pengalaman saya selama 3 bulan naik angkutan setiap hari, banyak supir yang ugal-ugalan serta lewat lajur kanan. Padahal seharusnya lajur kanan itu untuk pengguna jalan arus balik. Saat itu angkutan sudah berada di wilayah Kota Salatiga dan dengan jelas saya melihat aparat polisi sedang mengatur lalu lintas. Namun saya tercengang tatkala melihat polisi itu tidak mengambil tindakan. Tak jarang pula para kondektur menaikkan penumpang melebihi batas, sampai ada yang bergelantungan di pintu angkutan. Saya sering menjadi korban kondektur tamak nan rakus, Bapak.  Itu parah bagi saya. Lebih parah lagi polisi yang jelas melihat kejadian itu, namun hanya diam saja. Bagaimana jika dua buah alat transportasi dengan kecepatan kencang dan berbeda arah bertabrakan? Bagaimana pula jika penumpang yang kebagian bergelantungan di pintu terjatuh karena terdorong penumpang lain? Siapa yg berkewajiban bertanggungjawab? Saya ingin Bapak menasehati para polisi untuk bekerja dengan benar, Pak.

Masih berhubungan dengan infrastruktur. Bapak tahu tidak jembatan penyeberangan di dekat sekolah saya? Jembatan besi itu sebagian sudah berlubang dan karatan, Pak. Jembatan itu berpotensi membuat pengguna takut, termasuk saya sendiri.

Selain transportasi dan keamanan, tak lengkap rasanya membicarakan sebuah kota tanpa membahas kebersihan. Kebersihan di Kota Salatiga sudah lumayan. Tapi tetap saja ada sampah yang berserakan akibat pihak-pihak yang membuang sampah sembarangan. Padahal kebersihan suatu kota adalah menjadi tanggung jawab semua personil masyarakat. Mungkin karena saya belum mengenal Salatiga lebih dekat, saya kesusahan mencari tempat sampah saat saya berada di pinggir jalan (baca: trotoar). Saya minta maaf, Pak. Karena terlalu susahnya mencari tempat sampah, akhirnya saya memutuskan membuang sampah wadah minuman di dekat jembatan penyeberangan. Tepatnya di pojok bawah jembatan penyebarangan. Di situ banyak sekali sampah yang menumpuk, jadi saya ikut-ikutan membuangnya di tempat itu. Kejadian itu satu kali. Oh, tidak. Sepertiya dua kali. Mungkin tiga kali, Pak. Sekali lagi saya minta maaf . Saya tidak akan mengulanginya lagi, asal Bapak berjanji menyediakan tempat sampah umum di sudut-sudut trotoar. Memang, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya sangat rendah. Untuk meningkatkannya perlu kajian khusus seperti yang ibu Guru Geografi saya pernah katakan.  Entah karena faktor apa saya juga tidak tahu. Tapi kalo boleh usul, bagaimana jika diadakan lomba kreasi tempat sampah atau lomba menghias sampah! Lombanya antar pelajar saja, Pak. Biasanya kan anak muda suka berkreasi, mungkin ide-ide bentuk tempat sampah yang unik bisa mereka hasilkan. Kalau tempat sampahnya indah, masyarakat pasti tidak segan membuang sampah pada tempatnya. Beri tulisan area bebas sampah di tempat-tempat tertentu dan bila perlu berikan hukuman pada pihak yang melanggar. Tanpa hukuman, pelanggar tak akan jera. Dan jangan lupa, Pak  pesanan saya, tong sampah di sudut trotoar.


Bapak yang berbudi pekerti luhur,
Kata bapak saya, Salatiga itu sejuk, so bisa menciptakan suasana nyaman saat sekolah. Sekarang memang banyak sekolah yang melakukan penghijauan di lingkungannya. Tapi di masyarakat umum, mereka tidak sempat memikirkan hal-hal kecil namun bermanfaat itu. Melihat fenomena pemanasan global yang semakin buruk, apakah tidak lebih baik jika PemKot Salatiga mencanangkan program reboisasi/ penghijauan di pekarangan rumah masing-masing. Satu rumah minimal menanam 1 pohon saja. Demi keselamatan dunia, khususnya Salatiga, akankah hal itu terlalu berat dilaksanakan? Melihat lingkungan yang hijau, penuh dengan pepohonan rimbun tidak hanya menyejukkan fisik, tapi juga hati dan pikiran, Pak. Indah. Penuh pesona.

Di penghujung surat kecil saya ini saya juga ingin dibangunkan taman baca. Kebetulan teman-teman saya gemar membaca, begitu pula saya. Atau paling tidak bangunkanlah sebuah toko buku setingkat Gramedia. Maaf jika permintaan saya sangat muluk. Hal itu sangat mendukung pendidikan kami. Oya, kalau ada waktu bolehlah sekali-kali bapak mampir ke sekolah saya, menceritakan kepada saya dan teman-teman bagaimana rasanya menjadi seorang pemimpin. Jujur, saya belum pernah melihat Bapak baik dalam foto maupun secara langsung. Saya sih, inginnya mempunyai walikota yang sangat dekat dengan masyarakat, tidak malu makan di warung, melakukan kunjungan ke tempat-tempat tertentu, berbicara dengan rakyat kecil, dan murah senyum. Bukankah seorang pemimpin akan dicintai bila dekat dengan rakyatnya? Terima kasih Bapak, sudah mau membaca surat saya hingga akhir. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Semoga kepemimpinan Bapak nantinya menjadi masa kepemimpinan terbaik di Salatiga.  MAJULAH SALATIGA KOTA HATTI BERIMAN!

Wassalamu’alaikum w. w.,


Hormat saya,


Naili Mawadda