Walikota, Terimalah Surat Kecilku


Hari itu, tanggal 1 Oktober secara tiba-tiba Bu Uswa (Guru Bahasa Indonesia) mengumumkan di kelasku, X7, bahwa ada lomba menulis surat untuk Walikota  Salatiga.  Dan sialnya, kelasku adalah kelas terakhir yang diberi tahu pengumuman itu. Padahal pengiriman paling lambat tanggal 15. Sebenernya sih kami sudah tahu tentang berita -disuruhnya seluruh anak SMANSSA mengirim surat untuk walikota- tapi kami merasa tenang-tenang saja karena guru pengampu belum menyuruh membuat. Tapi TERNYATA "Barangsiapa yang mengirim surat untuk walikota dan menyerahkan bukti pengiriman dari kantor pos akan diberi nilai tambahan". Dan.... kemudian,
kami pun segera ngebut merancang isi surat yang akan dikirim. Sedangkan aku pribadi, rela nglembur sampe jam 3 pagi!! Hasilnya kayak gini deh: 
 

Salatiga, 1 Oktober 2011

Yth. Walikota Salatiga
di Salatiga

Assalamu’alaikum w. w.,

Apa kabarnya Bapak? Semoga Bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Sebelumnya perkenankanlah saya memperkenalkan diri, Pak. Nama saya Naili Mawadda. Oleh teman-teman saya biasa dipanggil Naili. Saya putri Kabupaten Semarang asli kelahiran 20 April 15 tahun yg lalu. Pak, tahukah Bapak, sejak lahir saya berdomisili secara tetap di Kabupaten Semarang dan sungguh, saya jarang sekali pergi ke Salatiga. Saya tinggal di Jalan Sudirman 21, Sendang Polang, Pringapus, Kab. Semarang. Mungkin Bapak baru tahu nama daerah dengan nama ”Pringapus”. Saat ini saya berstatus sebagai pelajar tetap di kelas X-7 SMA N 1 Salatiga.  Pendidikan di RA, SD, dan MTs, saya mengenyamnya di Kabupaten Semarang juga.. Namun, 3 bulan yang lalu, semenjak saya bersekolah di SMA N 1 Salatiga, saya mulai mengenali Salatiga, kota yang terdiri dari berbagai macam etnis. Bagaimana cara naik angkutannya, letak dan nama-nama daerahnya, bangunannya, dan tentu saja masyarakatnya. Saya sedang bersosialisi dengan mereka. Ya, Pak. Baru 3 bulan saja. Jadi, tidak aneh kan, Pak kalau saya mengatakan saya orang awam dan asing akan Salatiga?

Bapak Yulianto yang terhormat,
Tak berlebihan bila saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Walikota Salatiga periode 2011-2016. Sebagai pemimpin bagi suatu daerah, tugas dan pekerjaan wali kota memang bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawab yang cukup besar pun harus ditanggung wali kota guna memajukan dan menyejahterakan daerah maupun masyarakatnya. Warga Salatiga memilih Bapak pasti sudah pikir-pikir dulu, dan saya yakin pilihan mereka tidak salah. Bapak pasti sangat berpengalaman dan sudah mumpuni. Selain bersyukur telah dipilih menjadi walikota, saya yakin pasti Bapak khawatir dan deg-degan. Tentu sangat sulit menjadi seorang walikota. Akan ada banyak cemoohan dibalik pujian-pujian yang terucap dari masyarakat. Masalah-masalah pasti juga akan timbul seiring berjalannya masa kepemimpinan bapak. Saya yakin juga, pasti bapak orangnya amanah, bertanggung jawab, berjiwa sosial tinggi, dan yang jelas anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bukan begitu, Bapak? Semoga demikian.

Bapak yang budiman,
Ada pepatah mengatakan ”Tak kenal maka tak sayang”. Mungkin saya memang baru 3 bulan mengenal Salatiga. Tapi jangan salah, Pak. Saya sayang Salatiga. Saya peduli Salatiga, karena saya cinta Salatiga. Pasti bapak mempunyai PR yang banyak. Bahkan melebihi PR murid-murid sekolah yang ada di Kota Salatiga. Seberapa sulitnya PR-PR itu saya harap bapak melakukannya dengan ikhlas dan amanah.

Bapak yang terpercaya,
Selama 3 bulan terakhir ini setiap hari saya bolak-balik Pringapus-Salatiga. Sejak awal memang saya sudah memutuskan untuk tidak kos. Sebagian besar waktu dalam sehari, saya habiskan di sekolah sebab banyak kegiatan yang diadakan di SMA N 1 Salatiga. Aktifitas yang didominasi di sekolah cukup membuat saya tahu covernya Salatiga. Sehari-hari saya berangkat naik Bus jurusan Semarang-Salatiga, tetapi saat ”mepet” saya terpaksa naik Isuzu. Pernahkah bapak naik angkutan umum? Mungkin belum ya, Pak? Angkutan-angkutan umum itu sungguh tak tahu aturan.  Saya tahu mereka ngebut karena mengantar anak sekolahan yang takut telat, dan jalan raya di Salatiga memang cukup sempit menurut kacamata saya. Tapi alangkah baiknya jika mereka menaati aturan lalu lintas. Seharusnya mereka berada di lajur kiri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun berdasarkan pengalaman saya selama 3 bulan naik angkutan setiap hari, banyak supir yang ugal-ugalan serta lewat lajur kanan. Padahal seharusnya lajur kanan itu untuk pengguna jalan arus balik. Saat itu angkutan sudah berada di wilayah Kota Salatiga dan dengan jelas saya melihat aparat polisi sedang mengatur lalu lintas. Namun saya tercengang tatkala melihat polisi itu tidak mengambil tindakan. Tak jarang pula para kondektur menaikkan penumpang melebihi batas, sampai ada yang bergelantungan di pintu angkutan. Saya sering menjadi korban kondektur tamak nan rakus, Bapak.  Itu parah bagi saya. Lebih parah lagi polisi yang jelas melihat kejadian itu, namun hanya diam saja. Bagaimana jika dua buah alat transportasi dengan kecepatan kencang dan berbeda arah bertabrakan? Bagaimana pula jika penumpang yang kebagian bergelantungan di pintu terjatuh karena terdorong penumpang lain? Siapa yg berkewajiban bertanggungjawab? Saya ingin Bapak menasehati para polisi untuk bekerja dengan benar, Pak.

Masih berhubungan dengan infrastruktur. Bapak tahu tidak jembatan penyeberangan di dekat sekolah saya? Jembatan besi itu sebagian sudah berlubang dan karatan, Pak. Jembatan itu berpotensi membuat pengguna takut, termasuk saya sendiri.

Selain transportasi dan keamanan, tak lengkap rasanya membicarakan sebuah kota tanpa membahas kebersihan. Kebersihan di Kota Salatiga sudah lumayan. Tapi tetap saja ada sampah yang berserakan akibat pihak-pihak yang membuang sampah sembarangan. Padahal kebersihan suatu kota adalah menjadi tanggung jawab semua personil masyarakat. Mungkin karena saya belum mengenal Salatiga lebih dekat, saya kesusahan mencari tempat sampah saat saya berada di pinggir jalan (baca: trotoar). Saya minta maaf, Pak. Karena terlalu susahnya mencari tempat sampah, akhirnya saya memutuskan membuang sampah wadah minuman di dekat jembatan penyeberangan. Tepatnya di pojok bawah jembatan penyebarangan. Di situ banyak sekali sampah yang menumpuk, jadi saya ikut-ikutan membuangnya di tempat itu. Kejadian itu satu kali. Oh, tidak. Sepertiya dua kali. Mungkin tiga kali, Pak. Sekali lagi saya minta maaf . Saya tidak akan mengulanginya lagi, asal Bapak berjanji menyediakan tempat sampah umum di sudut-sudut trotoar. Memang, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya sangat rendah. Untuk meningkatkannya perlu kajian khusus seperti yang ibu Guru Geografi saya pernah katakan.  Entah karena faktor apa saya juga tidak tahu. Tapi kalo boleh usul, bagaimana jika diadakan lomba kreasi tempat sampah atau lomba menghias sampah! Lombanya antar pelajar saja, Pak. Biasanya kan anak muda suka berkreasi, mungkin ide-ide bentuk tempat sampah yang unik bisa mereka hasilkan. Kalau tempat sampahnya indah, masyarakat pasti tidak segan membuang sampah pada tempatnya. Beri tulisan area bebas sampah di tempat-tempat tertentu dan bila perlu berikan hukuman pada pihak yang melanggar. Tanpa hukuman, pelanggar tak akan jera. Dan jangan lupa, Pak  pesanan saya, tong sampah di sudut trotoar.


Bapak yang berbudi pekerti luhur,
Kata bapak saya, Salatiga itu sejuk, so bisa menciptakan suasana nyaman saat sekolah. Sekarang memang banyak sekolah yang melakukan penghijauan di lingkungannya. Tapi di masyarakat umum, mereka tidak sempat memikirkan hal-hal kecil namun bermanfaat itu. Melihat fenomena pemanasan global yang semakin buruk, apakah tidak lebih baik jika PemKot Salatiga mencanangkan program reboisasi/ penghijauan di pekarangan rumah masing-masing. Satu rumah minimal menanam 1 pohon saja. Demi keselamatan dunia, khususnya Salatiga, akankah hal itu terlalu berat dilaksanakan? Melihat lingkungan yang hijau, penuh dengan pepohonan rimbun tidak hanya menyejukkan fisik, tapi juga hati dan pikiran, Pak. Indah. Penuh pesona.

Di penghujung surat kecil saya ini saya juga ingin dibangunkan taman baca. Kebetulan teman-teman saya gemar membaca, begitu pula saya. Atau paling tidak bangunkanlah sebuah toko buku setingkat Gramedia. Maaf jika permintaan saya sangat muluk. Hal itu sangat mendukung pendidikan kami. Oya, kalau ada waktu bolehlah sekali-kali bapak mampir ke sekolah saya, menceritakan kepada saya dan teman-teman bagaimana rasanya menjadi seorang pemimpin. Jujur, saya belum pernah melihat Bapak baik dalam foto maupun secara langsung. Saya sih, inginnya mempunyai walikota yang sangat dekat dengan masyarakat, tidak malu makan di warung, melakukan kunjungan ke tempat-tempat tertentu, berbicara dengan rakyat kecil, dan murah senyum. Bukankah seorang pemimpin akan dicintai bila dekat dengan rakyatnya? Terima kasih Bapak, sudah mau membaca surat saya hingga akhir. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Semoga kepemimpinan Bapak nantinya menjadi masa kepemimpinan terbaik di Salatiga.  MAJULAH SALATIGA KOTA HATTI BERIMAN!

Wassalamu’alaikum w. w.,


Hormat saya,


Naili Mawadda

0 komentar:



Posting Komentar