Terduduk aku di atas sebuah kayu berkaki empat, di depan ruang kelasku, X-7. Ku lepas pandang ke seluruh penjuru lapangan. Tugas dari guru menuntutku mulai menggerakkan benda bertinta hitam ini. Semilir angin siang itu kian syahdu menghantarkanku pada sebuah memori. Bayang semu lapangan SMA N 1 Salatiga beberapa bulan lalu melintas tak pasti. Konstruksi tak karuan dan tekstur bak gurun pasir yang hanya terdapat lapisan pedosfer tanpa rumput. Ketika air tumpah dari langit, lapisan pedosfer kering menjelma menjadi lumpur becek, habitat bagi bebek. Spot-spot coklat berpola sepatu terbentuk di lantai-lantai koridor. Mengharuskan para cleaning service mengepel secara kontinu. Lalu, tiba-tiba pikiranku "ngadat". Otakku tak mampu mengingat keadaan lapangan yang dulu kembali. Sepertinya RAM di otakku sudah mendelete beberapa file mengenai hal itu dan menggantinya dengan ratusan bahkan ribuan hafalan dan rumus-rumus yang berjejalan.
Kembali ku layangkan pandangan ke tengah lapangan. Retina mata beriris hitam ini menangkap 2 pria paruh baya sedang berjongkok. Rasa penasaran mempertahankan saraf mata ini stagnan memandang. Rumput liar nan nakal yang beraktivitas di lapangan menambah satu pekerjaan baru bagi 2 pria itu. Menyiangi. Rumput-rumput liar seakan iri, ingin serta merta mendapat nutrisi H2O dari sang empunya. Seorang pria lain terlihat menarik-narik selang biru panjang di sudut barat daya lapangan. Pria telaten, yang kini hasil pekerjaannya sudah dapat dinikmati sebagian -pekerjaan belum selesai 100%. Rumput hijau pun berpesta. Mereka bersukacita. Menampakkan rasa bahagianya dengan memamerkan pigmen hijau segarnya. Sangat segar di kornea mata.
Lapangan gundul telah berselimut hijau, meski selimut itu sobek pada beberapa bagian. Berkapsid jogging track merah bata yang memang dibuat dari padatan bata, dan area untuk pedestrian yang kini sering menjadi jalur favorit meskipun harus menambah jarak yang ditempuh, padahal perpindahannya cukup kecil. Beraksesori pepohonan hijau yang rindang penyuplai oksigen, taman bunga sebagai penyumbang unsur estetis terbesar di mana binatang-binatang kecil kerap menjadikannya tempat bermain, pun pohon-pohon penghasil buah yang saat ini sedang bereproduksi. Daunnya kerap kering, berwarna kuning kecoklatan. Dan ketika ditiup angin, melayang, kemudian terjatuh, merapuh. Seperti sebuah dinamika. Lapangan nampak bagai kue, bertoppingkan makhluk hidup berkingdom plantae. Jambu-jambu air yang terpisah dari pohonnya tergeletak begitu saja. Angin berlalu-lalang membiarkannya busuk. Hanya berhembus tak tentu arah membawa debu sesukanya. Sedang bakteri yang baik hati tak tega melihat jambu-jambu membusuk dengan proses terlalu lama. Bakteri mempercepat pembusukannya, hingga hanya ulat kecil menjijikkanlah yang bersedia menjadi penghuninya.
Sejurus kemudian, kedua pupil mataku terfokus pada satu titik. Titik paling utama. Ya, posisi tiang bendera digeser 90°. Kini diserupakan dengan kiblat, arah salat bagi umat Islam, di Indonesia tentunya. Tiang bendera benar-benar menjadi titik paling utama. Tiang tempat Sang Saka Merah Putih dikibarkan menjadi tumpuan ketika para pembawa asa menanti sang pemimpin memberi komando "Hormaaat grak!"
Akhir-akhir ini baru kerasa banget beratnya jadi anak SMA. Sempet ng-drop, ngga enak badan, sakit-sakitan, dan kawan-kawan. Pagi ini sebenernya udah (hampir) ngga berangkat, tapi demi masa depan #cieeeh (≧◡≦) yang namanya sekolah wajib lah.
Karena aku, akan terus melangkah, melangkah, dan melangkah lagi.
Lagu, alunannya membuat damai. Iramanya, liriknya, mencerminkan isi hati yang menyenandungkannya -tapi sekarang fungsi lagu yang sesungguhnya sudah geser #eh- Musik adalah jiwa saya. TITIKKK! Sudah tertanam sejak dulu kala dan saya memang sudah ditakdirkan menyukai musik. Istilahnya sudah mendarah daging. WEW
Kecintaan saya akan musik semakin menjadi-jadi tatkala seorang gadis dari keluarga Gutawa berkicau (bukan arti sesungguhnya). Jiwa musik saya terpanggil, jiaaaah. Saya seperti terhipnotis oleh gadis itu. Dan dengan bangganya saya menyatakan dan menetapkan Aluna Sagita Gutawa sebagai idola saya setelah Rasulullah SAW.
Lagu! lagu yang dibawakannya. Tak tahu saya kenapa suka dengan aliran pop-seriosa. Itu aliran saya hlo #ngga tanya! Dulu vokal saya belum matang menyanyikan lagu dengan nada-nada tinggi seperti itu. Karena kebiasaan, nada-nada itu pun dapat saya jangkau. Kemudian, muncullah seorang putri remaja bernama Putri Ayu dengan aliran seriosanya. Karena dari sononya saya suka lagu begetooan ya udah deh saya ngikutin perkembangan Putri di IMB. Lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya saya download, lalu saya nyanyikan sendiri. Dan, jangkauan nada saya bertambah! Vokal saya semakin matang (PD banget,wkwk). Dan kini saya kembali tersadar abis pingsan Aluna Sagita Gutawa dan lagunya akan tetap dan selalu hits di hati saya. wedewwww..... Lagu-lagu dari album pertama mulai saya nyanyikan kembali. Tau ngga, itu karena liriknya nyrempet gue bangett It's wow! (apalagi nyanyinya pas ujan deres gitu, ngadep ke luar, dan mulai bersenandung :3) Memang tak dapat dinyana lagu-lagu Kak Gita mencerminkan saya saat ini. Walaupun saya ngga pernah pacaran bodo amat ah :p #lho ra nyambung blas
Esoknya, aku membawa karton-karton itu ke sekolah.
Lima belas lembar, sesuai kesepakatan
dengan teman sekelas. Walaupun perjanjiannnya berangkat pukul 10, karena
TERLALU rajinnya aku berangkat dari rumah sekitar pukul sembilan kurang dikiiit.
Adapun kurang lebihnya saya mohon maaf, karena jam di dunia ini beda-beda
–alibi-. ciyeeeee rajin banget gue. Kwokwokwo. Sebenernya sih bukan itu
alasannya –tutupan panci dulu ah- aku berangkat jam segitu biar bisa nebeng
Bapak yang mau berangkat kuliah di STAIN. Canggih banget ide guehhh ya
(menghemat pengeluaran).
Yah, dengan posisi rumahku yang bisa dibilang jauh
dari sekolah, mau berangkat jam segitu pun, sampe sekolah tetep aja setengah
10. Cuma setengah jam dari rumah sampe sekolah , wew. Maklum aje Babe kalo make sepeda
motor kenceng banget. Kemudian dengan menjinjing sebuah kardus aku berjalan
dari pertigaan menuju gerbang sekolah. Lagi-lagi SENDIRI.
Terlihatlah
di depan kelas baruku, 2 insan manusia bernama Shonia dan Ratri sedang duduk di
depan ruangan. Aku pun menyapa mereka. Hanya
menyapa dan berbincang sedikit, itu pun menyangkut masalah atribut. Di sela
perbincangan itulah baru kutahu bahwa Ratri Hayuningmas Hapsari adalah umat
Kristiani. Maaf, ya Ratri awalnya aku kira kamu muslim XD
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam
berganti hari. Hloh kok? Hmm lupakan. Teman-teman
akhirnya berdatangan dan kami mulai membuat atribut. Tinggal Lena
dan Tesa saja yang belum datang. Mereka mengajar di sekolah Minggu (acara
gereja gitu deh). Disitulah, keakakraban agak timbul. Percakapan mulai terarah
dan temanya jelas.
Saat waktu salat Zuhur tiba, aku dan Eva salat di
masjid SMANSSA. cieeee salat perdana nih yeee.
Yang namanya manusia, pasti lapar juga. Perutpun mulai berorkestra.
Aku, Eva, Bella, Made, dan Mela memutuskan mencari makan –saat yang
ditunggu-tunggu setelah berkutat dengan atribut-atribut- Kami berjalan
menyusuri Kemiri tanpa tujuan. Si Bella usul nih, beli borju. Kita kira deket.
Eee, ternyata jauh tak terkira. Dan sekembalinya ke sekolah, teman-teman udah pulang #Parah banget
Tas kami ditaruh di depan kelas gitu aja. tas yang malaaang.
Oya, sekedar info (jiaaah) kelas kami masih
bertahan dengan nama ”SETU SORE” loh (sampe bingung awalnya mau bikin logo kayak
gimana. Sempet terpikir juga logonya gambar dua anak lagi pacaran trus ada
matahari mau terbenam di atasnya –ide konyol-)
Ngga begitu spesial hari itu. Hanya saja terasa sekali kami bertambah akrab. Jajan bareng walau pun belum saling kenal, ketawa bareng,
rebutan gunting, ngukur bareng, serta bareng-bareng yang lainnya. Dan tahukah
Anda? Saat
itu Bella dan Mela namanya siapa pun saya tidak tahu!!
Pengumuman penerimaan siswa baru
SMA N 1 Salatiga udah selesai. Hmmm walaupun nungguinnya sampe ”ngoyot” plus
kerjaannya browsing web smanssaaaaa mulu. Sempat ngebuatku down banget
melihat peringkat yang merosot jauuuuh ditambah banget saat seleksi
tahap 1. Tentu saja nasihat-nasihat dari orang-orang terdekat membuatku kembali
bersemangat. Dan, akhirnyaaa tinggal nunggu pembagian kelas deh.
Malam itu (sebelum paginya
bertemu calon teman-teman sekelasku) aku buka FesBuk. Kubaca notif
satu-persatu. Taradhinta Suryandari. Yah, langsung saja aku membukanya.
Ternyata dia mengirim sesuatu ke dindingku.
”
Nama lengkapmu Naili Mawadda ya? Kamu X7, sekelas mbek aku”(bahasamu to dhint XD). Wew, batinku saat itu. Aku bakal sekelas sama rival
lombaku pas SD dulu. Hanya
seorang saja calon temen sekelas yang baru kukenal #tragis memang
Paginya…
Deredengggg
Hari pertama dimana aku bakal ketemu
sama calon temen yang nantinya (bahasa tidak efektif, zzzz ) setahun ke depan
sekelas denganku. Oh my Allah... semoga mereka baik. Aku pun segera bersiap
mengenakan seragam SMP eh, MTs. lengkap dengan jilbab paris
melilit di kepalaku. Karena udah gede (padahal masih 15 tahun, huwaaaa) aku
cuma diantar sampe pertigaan Karangjati, dilanjut nunggu angkotan datang dan
menaikinya SENDIRIAN#tragis2
Karena masih sangat awam Salatiga, pas hampir sampe sekolah
(menurutku dulu, itu udah deket sekolah, padahal masih jauh hloh XD), aku mau
berdiri, ngga jadi, berdiri, ngga jadi, sampe ada seorang siswi dari lain
sekolah memperhatikanku dengan tatapan aneh
(aneh dari Hongkong?????). Akhirnya nyampe juga deh di SalatigaStateSenior High School 1 :D
Sampai di gerbang,
Shhhhh Vega mana ya? (pas awal masuk cuma Vega yang aku kenal selain Gigih-dia temen SDku-, soalnya kita sama-sama
ga punya temen) wkwkwk #tragis3
Aku coba sms dia
berkali-kali, tapi dianya ngga nyampe-nyampe di sekolah. Ya, jadilah seorang
Naili Mawadda yang ngga kenal siapa-siapa di tempat yang sangat asing baginya, plonga-plongo ngga jelas. Paling cuma ngobrol
sama temen satu ruangan tes, dengan pertanyaan bertipe sama, ”Kelas X berapa?”
bzzzzz Vega lama deh.
Aku pun memutuskan untuk berdiri
di depan papan pengumuman, sendiri (lagi). Tiba-tiba aja ada seorang
anak ngajak kenalan. Namanya Ratih (dan akhirnya kuketahui juga kalo namanya
yang bener Ratri) #apadeh --’
Ngga cuma dia,
ada juga beberapa anak lain –cewe- yang ngajak kenalan. Ada juga yang namanya
Rossy (tapi belakangan aku manggilnya Lena)- Magdalena Rossy Resita-. Dan
untungnya ternyata mereka bakal satu kelas sama aku,
#yeeeyy XD
Lalu kami –calon
siswa-siswi SMANSSA- pun dibariskan di lapangan rumput (RSBI tapi
lapangannya masih tanah, rumput keluar dikit-dikit #alamakkeceplosan). Disana
kami dibariskan menurut kelas masing-masing. Ya Allah, ngga ada yang aku kenal.
Masya Allah banget yah. #tragis4. Disitu Pak ehmm.. pak siapa gitu, lupa.
wkwk -tapi inget wajahnya kok- pidato gitu deh, pake English. Huwouwouwo
Pas
ditengah-tengah pidato, eh si Vega baru nongol (tiwas ngoyot sing ngenteni).
Setelah itu kami pun memasuki
ruang kelas baru. Yay (dalam keadaan masih belum kenal). Sungguh malang
nasibku, aku duduk sendirian dibangku nomor dua dari depan. #tragis5 Ya
memang sih jumlah siswi di kelasku ganjil. Aku lihat sekeliling. (ekspresi
–agak- kaget) Eh, ada dia! Dia kan yang pas pendaftaran sama tes duduk di
depanku. Ah, masa bodo :p
Tentu saja kami semua belum kenal
satu sama lain. Lalu, datanglah Mbak Meutia dan Mas Magma, pendamping MOS &
MPO kami nanti :D Tak hanya mereka, ada juga Mas Yogi & Mbak Azzahra dari
kelas XI (tapi pas hari pertama itu Mbak Azza ngga ada). Mas Magma menyuruh
kami maju satu-satu memperkenalkan diri. Yang maju pertama namanya Aji Masa’id
–aku langsung hafal karena namanya sama kayak alm. artis wkwk-. Terus dilanjut
sampe absen terakhir. Organisasi kelas langsung dibentuk saat itu juga dan
akulah yang bertugas memilih calon ketua kelas bersama Dhinta, Tesa, dan Lena
(kan ngga kenalll). Dan karena ketidakkenalanku pada
mereka itu aku asal pilih aja deh (aku milih seseorang yang akhirnya
benar-benar menjadi ketua di kelasku, Ristian
Dika). Kemudian terpilih Safira Jannah Azzarina & Candra Melania
sebagai sekretaris (dipilih berdasarkan hasil tulisan di whiteboard), lalu
Bella Pertiwi Putri & Ni Made Wili Septiarini sebagai bendahara kelas. Si
Mas Yogi kemudian nanya ke kita, apa nama kelas X7 pas MOS & MPO nanti.
Kami pun mulai berdiskusi. Dari situlah awalnya kami berbincang satu sama lain.
Ada yang usul namanya SEJUTA, tapi agak aneh. Gugur deh nama itu. Trus ehm
apalagi ya? Wkwk lupa ane. O iya nama itu diusulkan oleh Axel Priya Mahardika.
Lanjut ke materi tentang MOS & MPO, mas & mbak pendamping menjelaskan
tentang apa saja yang harus dipersiapkan. Untungnya sistem di SMANSSA adalah...
satu kelas bikinnya bareng-bareng, pake duit bareng-bareng. Yuhuuuu... kan
ngga rempong bo :D Aku cuma kebagian bawa karton
15 lembar. Enteng banget kan? Hahahahaha. Barang-barang itu harus
dibawa besok Minggu paginya untuk menyicil pembuatan atribut MPO. Karena banyak
teman yang pergi ke gereja dulu, kami sepakat acara (jiah) dimulai pukul 10.
Ternyata kelas kami mendapat bagian warna PINK loh
untuk semua atribut. aaaa tidak.
Batinku di akhir pertemuan pertama, ”Ni kelas orangnya
aneh-aneh deh, namanya juga ANEH! Agama beda-beda ngga masalah bagiku, kan malah
seru. Yang penting semoga mereka bisa bersosialisasi dengan baik.” Ya,
begitulah kelasku. Ada
yang Islam, Kristen, Katholik sampe Hindu. Ada
yang asalnya dari Ungaran, Sragen, Jogja, Lombok,
Lumajang, etc. Multikultural banget ga sih tuuu??? Hohoho. Sebelum pulang kami
saling tukar nomor HP dan sempat smsan. Pulangnya aku bareng teman baruku,
Ratri, walau cuma sampe pertigaan --‘
Dannnnnn, nama sementara
kelas baru kami adalah... SETU SORE #tepuk
tangan riuhhhh (aneh banget yg kasih nama).
Hari itu, tanggal 1 Oktober secara tiba-tiba Bu Uswa (Guru Bahasa Indonesia) mengumumkan di kelasku, X7, bahwa ada lomba menulis surat untuk Walikota Salatiga. Dan sialnya, kelasku adalah kelas terakhir yang diberi tahu pengumuman itu. Padahal pengiriman paling lambat tanggal 15. Sebenernya sih kami sudah tahu tentang berita -disuruhnya seluruh anak SMANSSA mengirim surat untuk walikota- tapi kami merasa tenang-tenang saja karena guru pengampu belum menyuruh membuat. Tapi TERNYATA "Barangsiapa yang mengirim surat untuk walikota dan menyerahkan bukti pengiriman dari kantor pos akan diberi nilai tambahan". Dan.... kemudian,
kami pun segera ngebut merancang isi surat yang akan dikirim. Sedangkan aku pribadi, rela nglembur sampe jam 3 pagi!! Hasilnya kayak gini deh:
Salatiga, 1 Oktober 2011
Yth. Walikota
Salatiga
di Salatiga
Assalamu’alaikum
w. w.,
Apa kabarnya
Bapak? Semoga Bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Sebelumnya
perkenankanlah saya memperkenalkan diri, Pak. Nama saya Naili Mawadda. Oleh teman-teman saya biasa dipanggil Naili. Saya
putri Kabupaten Semarang asli kelahiran 20 April 15 tahun yg lalu. Pak, tahukah
Bapak, sejak lahir saya berdomisili secara tetap di Kabupaten Semarang dan
sungguh, saya jarang sekali pergi ke Salatiga. Saya tinggal di Jalan Sudirman
21, Sendang Polang, Pringapus, Kab. Semarang. Mungkin Bapak baru tahu nama
daerah dengan nama ”Pringapus”. Saat ini saya berstatus sebagai pelajar tetap
di kelas X-7 SMA N 1 Salatiga. Pendidikan
di RA, SD, dan MTs, saya mengenyamnya di Kabupaten Semarang juga.. Namun, 3
bulan yang lalu, semenjak saya bersekolah di SMA N 1 Salatiga, saya mulai
mengenali Salatiga, kota yang terdiri dari berbagai macam etnis. Bagaimana cara
naik angkutannya, letak dan nama-nama daerahnya, bangunannya, dan tentu saja
masyarakatnya. Saya sedang bersosialisi dengan mereka. Ya, Pak. Baru 3 bulan
saja. Jadi, tidak aneh kan, Pak kalau saya mengatakan saya orang awam dan asing
akan Salatiga?
Bapak Yulianto yang terhormat,
Tak berlebihan bila saya mengucapkan selamat atas
terpilihnya Bapak sebagai Walikota Salatiga periode 2011-2016. Sebagai pemimpin bagi suatu daerah, tugas dan
pekerjaan wali kota memang bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawab yang cukup
besar pun harus ditanggung wali kota guna memajukan dan menyejahterakan daerah
maupun masyarakatnya. Warga Salatiga memilih Bapak pasti sudah
pikir-pikir dulu, dan saya yakin pilihan mereka tidak salah. Bapak pasti sangat
berpengalaman dan sudah mumpuni. Selain bersyukur telah dipilih menjadi
walikota, saya yakin pasti Bapak khawatir dan deg-degan. Tentu sangat sulit
menjadi seorang walikota. Akan ada banyak cemoohan dibalik pujian-pujian yang
terucap dari masyarakat. Masalah-masalah pasti juga akan timbul seiring
berjalannya masa kepemimpinan bapak. Saya yakin juga, pasti bapak orangnya
amanah, bertanggung jawab, berjiwa sosial tinggi, dan yang jelas anti korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Bukan begitu, Bapak? Semoga demikian.
Bapak yang budiman,
Ada pepatah mengatakan ”Tak kenal maka tak sayang”.
Mungkin saya memang baru 3 bulan mengenal Salatiga. Tapi jangan salah,
Pak. Saya sayang Salatiga. Saya peduli Salatiga, karena saya cinta Salatiga.
Pasti bapak mempunyai PR yang banyak. Bahkan melebihi PR murid-murid sekolah yang ada di Kota Salatiga. Seberapa
sulitnya PR-PR itu saya harap bapak melakukannya dengan ikhlas dan amanah.
Bapak yang terpercaya,
Selama 3 bulan terakhir ini setiap hari saya
bolak-balik Pringapus-Salatiga. Sejak awal memang saya sudah memutuskan untuk
tidak kos. Sebagian besar waktu dalam sehari, saya habiskan di sekolah sebab
banyak kegiatan yang diadakan di SMA N 1 Salatiga. Aktifitas yang didominasi di
sekolah cukup membuat saya tahu covernya Salatiga. Sehari-hari saya berangkat
naik Bus jurusan Semarang-Salatiga, tetapi saat ”mepet” saya terpaksa naik
Isuzu. Pernahkah bapak naik angkutan umum? Mungkin belum ya, Pak?
Angkutan-angkutan umum itu sungguh tak tahu aturan. Saya tahu mereka ngebut karena mengantar anak
sekolahan yang takut telat, dan jalan raya di Salatiga memang cukup sempit
menurut kacamata saya. Tapi alangkah baiknya jika mereka menaati aturan lalu
lintas. Seharusnya mereka berada di lajur kiri sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Namun berdasarkan pengalaman saya selama 3 bulan naik angkutan setiap
hari, banyak supir yang ugal-ugalan serta lewat lajur kanan. Padahal seharusnya
lajur kanan itu untuk pengguna jalan arus balik. Saat itu angkutan sudah berada
di wilayah Kota Salatiga dan dengan jelas saya melihat aparat polisi sedang
mengatur lalu lintas. Namun saya tercengang tatkala melihat polisi itu tidak
mengambil tindakan. Tak jarang pula para kondektur menaikkan penumpang melebihi
batas, sampai ada yang bergelantungan di pintu angkutan. Saya sering menjadi
korban kondektur tamak nan rakus, Bapak.
Itu parah bagi saya. Lebih parah lagi polisi yang jelas melihat kejadian
itu, namun hanya diam saja. Bagaimana jika dua buah alat transportasi dengan
kecepatan kencang dan berbeda arah bertabrakan? Bagaimana pula jika penumpang
yang kebagian bergelantungan di pintu terjatuh karena terdorong penumpang lain?
Siapa yg berkewajiban bertanggungjawab? Saya ingin Bapak menasehati para polisi
untuk bekerja dengan benar, Pak.
Masih berhubungan dengan infrastruktur. Bapak tahu
tidak jembatan penyeberangan di dekat sekolah saya? Jembatan besi itu sebagian
sudah berlubang dan karatan, Pak. Jembatan itu berpotensi membuat pengguna
takut, termasuk saya sendiri.
Selain transportasi dan keamanan, tak lengkap
rasanya membicarakan sebuah kota tanpa membahas kebersihan. Kebersihan di Kota
Salatiga sudah lumayan. Tapi tetap saja ada sampah yang berserakan akibat
pihak-pihak yang membuang sampah sembarangan. Padahal kebersihan suatu kota
adalah menjadi tanggung jawab semua personil masyarakat. Mungkin karena saya
belum mengenal Salatiga lebih dekat, saya kesusahan mencari tempat sampah saat
saya berada di pinggir jalan (baca: trotoar). Saya minta maaf, Pak. Karena
terlalu susahnya mencari tempat sampah, akhirnya saya memutuskan membuang
sampah wadah minuman di dekat jembatan penyeberangan. Tepatnya di pojok bawah
jembatan penyebarangan. Di situ banyak sekali sampah yang menumpuk, jadi saya
ikut-ikutan membuangnya di tempat itu. Kejadian itu satu kali. Oh, tidak.
Sepertiya dua kali. Mungkin tiga kali, Pak. Sekali lagi saya minta maaf . Saya
tidak akan mengulanginya lagi, asal Bapak berjanji menyediakan tempat sampah
umum di sudut-sudut trotoar. Memang, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah
pada tempatnya sangat rendah. Untuk meningkatkannya perlu kajian khusus seperti
yang ibu Guru Geografi saya pernah katakan.
Entah karena faktor apa saya juga tidak tahu. Tapi kalo boleh usul,
bagaimana jika diadakan lomba kreasi tempat sampah atau lomba menghias sampah!
Lombanya antar pelajar saja, Pak. Biasanya kan anak muda suka berkreasi,
mungkin ide-ide bentuk tempat sampah yang unik bisa mereka hasilkan. Kalau
tempat sampahnya indah, masyarakat pasti tidak segan membuang sampah pada
tempatnya. Beri tulisan area bebas sampah di tempat-tempat tertentu dan bila
perlu berikan hukuman pada pihak yang melanggar. Tanpa hukuman, pelanggar tak
akan jera. Dan jangan lupa, Pak pesanan
saya, tong sampah di sudut trotoar.
Bapak yang berbudi pekerti luhur,
Kata bapak saya, Salatiga itu sejuk, so
bisa menciptakan suasana nyaman saat sekolah. Sekarang memang banyak sekolah
yang melakukan penghijauan di lingkungannya. Tapi di masyarakat umum, mereka
tidak sempat memikirkan hal-hal kecil namun bermanfaat itu. Melihat fenomena
pemanasan global yang semakin buruk, apakah tidak lebih baik jika PemKot
Salatiga mencanangkan program reboisasi/ penghijauan di pekarangan rumah
masing-masing. Satu rumah minimal menanam 1 pohon saja. Demi keselamatan dunia,
khususnya Salatiga, akankah hal itu terlalu berat dilaksanakan? Melihat
lingkungan yang hijau, penuh dengan pepohonan rimbun tidak hanya menyejukkan
fisik, tapi juga hati dan pikiran, Pak. Indah. Penuh pesona.
Di penghujung surat kecil saya
ini saya juga ingin dibangunkan taman baca. Kebetulan teman-teman saya gemar
membaca, begitu pula saya. Atau paling tidak bangunkanlah sebuah toko buku setingkat
Gramedia. Maaf jika permintaan saya sangat muluk. Hal itu sangat mendukung
pendidikan kami. Oya, kalau ada waktu bolehlah sekali-kali bapak mampir ke
sekolah saya, menceritakan kepada saya dan teman-teman bagaimana rasanya menjadi
seorang pemimpin. Jujur, saya belum pernah melihat Bapak baik dalam foto maupun
secara langsung. Saya sih, inginnya mempunyai walikota yang sangat dekat dengan
masyarakat, tidak malu makan di warung, melakukan kunjungan ke tempat-tempat
tertentu, berbicara dengan rakyat kecil, dan murah senyum. Bukankah seorang
pemimpin akan dicintai bila dekat dengan rakyatnya? Terima kasih Bapak, sudah
mau membaca surat saya hingga akhir. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan
kata. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Semoga kepemimpinan Bapak nantinya menjadi masa kepemimpinan terbaik di
Salatiga. MAJULAH SALATIGA KOTA HATTI
BERIMAN!
Komputer adalah suatu peralatan
elektronik yang dapat memerima input, memberikan informasi, mengolah input,
menggunakan suatu program yang tersimpan dalam memori, dapat menyimpan program
dan hasil pengolahan serta bekerja secara otomatis.
Sebagai pengolah data untuk menghasilkan suatu informasi memerlukan
sistem komputer (Computer System) yang elemennya terdiri dari:
Hardware (perangkat keras)
Software (perangkat lunak)
Brainware (manusia sebagai pengendali)
Sistem Operasi itu ada Windows,
Linux, Apple, Machinetosh, Solaris, Unix, FreeBSD, CITS, MFPS
Linux dibedakan 3 distro:
Debian: Debian, 64 studio, ubuntu
RPM : Igos, mandrake, mandriva, redhat
Slackware
Komputer Generasi Pertama
Komputer generasi pertama muncul saat Perang
Dunia 2 yaitu Mainframe (1941). Contoh komputer generasi pertama adalah
Z3 digunakan untuk mendesain pesawat terbang dan peluru kendali yang dibangun
oleh Konrad Zuse. Tahun 1943, Inggris menyelesaikan komputer Colossus untuk
memecahkan kode rahasia Jerman. Contoh lain Eniac, UNIVAC, EDVAC.
Komputer generasi pertama memiliki program
kode biner, tube vakum (sehingga ukurannya besar), dan silinder magnetik untuk
penyimpanan data.
Komputer Generasi Kedua
Memiliki ukuran yang lebih kecil. Menggunakan
transistor untuk menggantikan tube vakum. Generasi kedua menggantikan bahasa
mesin dengan bahasa assembly (menggunakan singkatan-singkatan). Muncul juga Bahasa Pemrograman, yaitu
COBOL, FORTRAN, Algol.
Komputer
Generasi Ketiga
Jack Kilby,
seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi
(IC : integrated circuit) tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen
dalam sebuah piringan silikon kecil dari pasir kuarsa untuk meredam panasnya
transistor. Kemajuan lainnya adalah penggunaan sistem operasi (operating
system) yang memungkinkan mesin menjalankan berbagai program yang berbeda
secara serentak.
Komputer
Generasi Keempat
Dibanding
IC, Large Scale Integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah
chip. Very Large Scale Integration (VLSI) dapat memuat ribuan dan Ultra-Large
Scale Integration (ULSI) meningkatkan jumlah tersebut menjadi jutaan.
Tahun 1981, IBM
memperkenalkan penggunaan Personal Computer (PC). Komputer berevolusi dari yang
berada di atas meja (PC Dekstop) menjadi dapat dimasukkan tas (laptop), atau
bahkan dapat digenggam (palmtop). IBM PC (berbasis teks) bersaing dengan Apple
Macintosh (system grafis dan mempopulerkan mouse) dalam memperebutkan pasar.
Pada masa
sekarang, dikenal CPU: IBM PC/486, Pentium, Pentium II, Pentium III, Pentium IV
(Serial dari CPU buatan Intel). Juga dikenal AMD k6, Athlon, dsb.
Komputer
Generasi Kelima
Contoh
imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel
karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey. Dengan kecerdasan buatan
(artificial intelligence atau AI), HAL memiliki nalar untuk bercakap dengan
manusia, menggunakan masukan visual, dan belajar dari pengalamannya sendiri. Walaupun
realisasi HAL9000 masih jauh dari kenyataan, banyak fungsi yang dimilikinya
sudah terwujud.
Ada 2 kemajuan rekayasa, yaitu kemampuan
pemrosesan paralel dan teknologi superkonduktor yang memungkinkan aliran
elektrik tanpa ada hambatan apapun.
Jepang
terkenal dalam proyek komputer generasi kelima. Lembaga ICOT (Institute for new
Computer Technology) juga dibentuk untuk merealisasikannya.